KUTIL DI ANUS BERDARAH

Gejala Penyebab Pengobatan Konsultasi

Di dalam pria, kutil dapat berkembang di bagian batang serta ujung penis, anus, dan kantong zakar. Sedangkan di dalam wanita, kutil kelamin meraih tumbuh pada bagian dinding vagina, leher rahim, vulva, dan kulit di masa lubang vagina dan lubang anus. Kutil kelamin bisa tumbuh di dalam mulut dan bahkan tenggorokan seseorang yang melakukan seks oral dengan seorang penderita.

Meskipun kutil kelamin tidak merupakan ancaman serius bagi kesehatan dan umumnya tidak mengakibatkan rasa sakit, serta tidak berpengaruh terhadap tingkat kesuburan, kondisi ini bisa mengakibatkan tekanan psikologis orang yang menderitanya.

Mungkin ada segenap orang yang bertanya, berbahayakah melakukan hubungan seksual menggunakan anus ataupun dubur?  Tidak sedikit pasangan yang melakukan dengan alasan demi sebuah keinginan untuk mendapatkan sebuah variasi dalam hubungan seks. Hubungan seksual yang normal tentu saja adalah dengan cara yang wajar, ialah penetrasi Mr. P ke dalam Mrs. V. Namun, terkadang beberapa pasangan kadang-kadang ingin mencoba berbagai ragam lain, misalnya saja hubungan seksual lewat belakang ataupun lewat dubur. Timbul sebuah pertanyaan, berbahayakah hubungan seks dengan cara seperti tersebut.

Seks anal kadang diterapkan untuk kesenangan ataupun menjauhkan kehamilan. Padahal selain risikonya yang berlipat ganda, dengan cara ini kehamilan meraih tetap terjadi. Seks anal adalah aktivitas seksual pada area anal yang umumnya meliputi: penetrasi male organ ke anus, penetrasi jari atau mainan seks misalnya vibrator ke anus, maupun seks oral yang diterapkan dengan menstimulasi anus memanfaatkan mulut atau lidah.

Penyakit Menular Seksual hingga Pendarahan

Anus adalah organ tubuh yang sangat sensitif sebab sarat dengan ujung saraf sehingga dapat menjadi area stimulasi seks yang memuaskan. Namun kesenangan ini tidak sepadan dengan risiko yang terkandung.

Berikut beberapa antaranya:

  • Penetrasi dan seks oral pada anus menambahkan risiko penularan penyakit menular seksual.

Dibandingkan aktifitas seksual lainnya, aktifitas seksual yang melibatkan penetrasi ke rectum mempunyai risiko tertinggi di dalam risiko penularan penyakit menular seksual, seperti HIV, herpes virus kelamin, kutil kelamin, klamidia, hepatitis B, gonore, serta sifilis. Orang yang melancarkan seks melalui anal lebih berisiko terkena HIV dibanding yang melancarkan penetrasi melalui vagina. Paparan human papillomavirus (HPV) meraih memicu pertumbuhan kutil di dalam dubur hingga kanker rectum.

Tidak hanya penetrasi, tetapi seks oral pada rectum juga membuat kedua pasangan berisiko terkena herpes, hepatitis, HPV, dan infeksi yang lain. Beberapa infeksi dapat dikarenakan virus atau bakteri yang disebarkan melalui seks yang dilakukan bergantian dengan seks anal, seperti hepatitis A atau E. Coli. Memasukkan jari ke rectum pasangan juga dapat mengakibatkan risiko serupa.

  • Anus tidak memiliki pelumas sehingga rentan rusak.

Tidak seperti vaginal area yang terlindungi pelumas, penetrasi pada anus dapat merusak jaringan di dalamnya. Memanfaatkan pelumas tidak akan mencegah risiko kerusakan jaringan rectum. Kondisi ini juga menyajikan bakteri dan virus meraih masuk dengan mudah ke pembuluh darah sehingga mempercepat penyebaran infeksi menular seksual, termasuk HIV.

  • Anus full dengan bakteri yang berpotensi menginfeksi pasangan.

Walau pasangan yang melakukan seks anal tidak mempunyai penyakit menular seksual, terdapat bakteri yang secara normal memang hidup di anus sehingga berisiko menginfeksi pasangan. Hubungan seksual yang dilakukan dari rectum kemudian berpindah ke vaginal area juga berisiko menimbulkan perpindahan bakteri dan memicu infeksi saluran kencing.

  • Penetrasi seks anal berisiko melemahkan cincin otot anus.

Anus didesain dengan otot yang menyerupai cincin untuk mengatur kesibukan buang air besar. Cincin otot ini disebut sfingter. Cincin otot anus berbisnis saat buang air lebih besar dan menutup setelah buang air besar selesai. Seks anal yang terus menerus dapat melemahkan otot sehingga membuat pelakunya jadi susah mengontrol buang air besar.

  • Perdarahan setelah seks anal.

Setelah seks anal, dapat terjadi perdarahan gara-gara hemoroid, robeknya jaringan, ataupun bahkan terjadi lubang di dalam usus. Ini merupakan hal berbahaya yang memerlukan penanganan medis darurat seperti operasi dan antibiotik untuk mencegah infeksi.

Selain itu, seks anal kadang dilakukan untuk menghindari kehamilan. Namun sesungguhnya kehamilan tetap dapat timbul jika air mani hadir ke dalam lubang vaginal area yang posisinya tidak dalam dari anus.

  • Meminimalkan Risiko Seks Anal

Cara amat efektif untuk menghindari risiko seks anal adalah dengan tidak melakukan kegiatan seks ini sama sekali. Tetapi jika memang ingin masih melakukan aktivitas seksual di sini berikut beberapa cara yang dapat dilakukan: Kenakan kondom untuk melindungi diri untuk penyakit menular seksual ketika melakukan penetrasi seks anal. Gunakan pelumas berbahan basis air yang banyak tersedia di apotek atau superstore. Bukan yang berbahan basis minyak seperti losion ataupun pelembap karena dapat mengakibatkan kebocoran pada kondom lateks.

Untuk menghindari infeksi saluran kencing karena perpindahan bakteri dari anus ke vaginal area, gunakan kondom baru sesudah melakukan seks anal lalu melakukan penetrasi vagina, ataupun sebaliknya. Senam Kegel meraih berperan membantu memperbaiki cincin otot anus yang melemah akibat seks anal. Bagi mengurangi risiko rusaknya jaringan, buat tubuh rileks sebelum melakukan seks anal. Sesuatu ini bisa dilakukan seumpama dengan mandi air hangat.

  • Hentikan jika seks anal terasa menyakitkan.

Segera periksakan diri ke dokter andai terjadi pendarahan, luka, pergi dari cairan, nyeri pada rectum dan bila timbul benjolan pada anus. Pada hasilnya, mengingat banyaknya dan tingginya tingkat risiko seks anal, ada baiknya untuk menjauhkan aktivitas ini.

 

Baca juga : Bahayakah Muncul Kutil Di Anus